
WARTAPOST.CO.ID, Pringsewu — Hingga saat ini stunting masih menjadi masalah serius pada anak di Indonesia. Bahkan, tingkat stunting pada balita di Indonesia melampaui batas yang ditetapkan World Health Organization (WHO). Biasanya kasus Stunting banyak terjadi di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan pendidikan yang rendah.
Stunting ini menjadi persoalan yang kompleks. Artinya, kehadirannya bukan sekadar berdampak pada gangguan kesehatan fisik, melainkan juga berdampak buruk pada sistem kekebalan tubuh anak sehingga mudah terserang berbagai penyakit. Selain itu, stunting juga dapat mengganggu kesehatan jiwa dan perkembangan otak anak.
Menurut Puji Lestari (2023) akar permasalahan stunting di Indonesia meliputi faktor gizi buruk, lingkungan dan sanitasi yang buruk, kesehatan ibu yang kurang, kurangnya pendidikan gizi dan kesadaran masyarakat, serta faktor sosial-ekonomi dan ketimpangan. Jika merujuk pada laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan, angka stunting anak balita nasional mencapai 24,4% pada 2021. SSGI mencatat mayoritas kasus stunting di Indonesia ditemukan pada anak rentang usia 3-4 tahun (36-47 bulan) dengan persentase 6%.
Kemudian kasus stunting di kelompok usia 24-35 bulan mencapai 5,6%, usia 48-59 bulan 4,5%, dan 18-23 bulan 3,6%. Anak usia 12-17 bulan yang mengalami stunting sebesar 2,3%, usia 6-11 bulan 1,6%, dan usia 0-5 bulan 0,7% (Kata Data, 19/1/2023).
Dengan begitu, stunting ini merupakan masalah serius yang membutuhkan penanganan yang serius pula. Sebab, jika masalah stunting tidak ditangani secara serius akan menimbulkan beragam masalah, mulai meningkatnya kemiskinan, pertumbuhan ekonomi melambat, hingga menyebabkan ketimpangan sosial.
Momentum Ramadan stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang berkualitas. Dalam perspektif Islam, kesehatan merupakan salah satu nikmat luar biasa yang harus dijaga dengan baik sebagai bentuk syukur kita kepada Allah Swt. Selain melalui pengobatan medis, penanganan stunting juga dapat dilakukan dengan pengaplikasian nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, kehadiran bulan suci Ramadan menjadi momentum penting untuk melawan stunting dengan cara menyediakan pangan yang berkualitas pada saat berbuka dan sahur. Hal pertama yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengonsumsi pangan yang bergizi tinggi.
“Edukasi ini sangat penting agar masyarakat memiliki pengetahuan yang utuh terkait makanan yang bergizi yang memang sangat dibutuhkan oleh tubuh,” ujar Rektor Institut Bakti Nusantara (IBN), Fauzi, S.E., M.Kom., Akt., C.A., CMA.
Bagi masjid yang menyediakan buka bersama secara gratis juga perlu memastikan bahwa berbagai hidangan yang disajikan benar-benar mengandung nutrisi yang cukup. Pengurus masjid harus selektif memilih makanan dan minuman yang akan dibagikan kepada jamaah. Ini penting mengingat buka bersama banyak melibatkan anak-anak di mana asupan gizi mereka harus benar-benar diperhatikan.
Terakhir, adalah pengawasan dari pihak terkait dalam hal ini dinas kesehatan untuk melakukan pengawasan yang maksimal terhadap para penjual takjil. Upaya ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa takjil yang dijual tidak mengandung bahan-bahan kimia atau pengawet yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat khususnya anak-anak.
“Akhirnya, Ramadan 1445 H harus menggugah kesadaran kita semua akan pentingnya menjaga anak-anak dari bahaya stunting. Dengan begitu, puasa Ramadan tidak hanya menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa, melainkan juga bebas dari stunting sehingga anak-anak kita memiliki pertumbuhan fisik, otak dan mental yang baik,” tutup Fauzi.
Wakil Bupati Pringsewu (2017-2022) dan Rektor Institut Bakti Nusantara (IBN), Fauzi, S.E., M.Kom., Akt., C.A., CMA.

