Zhi Lin Academy Meriahkan Penutupan Merdeka Fest 2025 di Gelar Karya ke-57

WARTAPOST.CO.ID, Bandar Lampung — Merdeka Fest 2025 resmi ditutup dengan semarak melalui Gelar Karya ke-57 yang berlangsung di Pasar Kreatif & Seni PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Sabtu malam (23/08/2025). Ribuan warga tumpah ruah, menjadikan penutupan festival sebagai panggung kebersamaan lintas komunitas seni, budaya, dan olahraga.

Kemeriahan ini tidak sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum reflektif: bagaimana karya kolektif bisa menjadi simbol persatuan di tengah tantangan zaman. Gelar Karya ke-57 juga menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan panjang Merdeka Fest 2025, yang digelar untuk memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia.

Zhi Lin Academy : Bela Diri yang Estetis

Sorotan utama datang dari Wu Shu Zhi Lin Academy yang menampilkan rangkaian jurus wushu penuh ketangkasan. Atlet muda mengekspresikan kekuatan dan keindahan gerakan, memadukan olahraga dengan seni pertunjukan. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton menjadi bukti bahwa seni bela diri mampu bersanding dengan tari maupun musik di satu panggung kreatif.

Ketua Zhi Lin Academy, Adhitya Hillabi, menegaskan bahwa wushu bukan sekadar olahraga, tetapi juga medium pendidikan karakter.

“Melalui wushu, kami ingin menanamkan sportivitas, kedisiplinan, dan keberanian kepada generasi muda. Kehadiran kami di Gelar Karya adalah bentuk komitmen untuk memperkenalkan wushu lebih luas di Lampung sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan dalam merayakan HUT ke-80 RI,” ujarnya.

Panggung Keberagaman Seni

Selain Zhi Lin Academy, Gelar Karya juga diramaikan oleh Sanggar Srikandi, Tari Sapta Budaya, Long De Xin Yayasan Hakka, Insabul Insan, Cristian Biola, Arsya Oganara, hingga Nopriansyah Rocker Lampung. Masing-masing membawa warna berbeda, memperlihatkan mosaik kekayaan budaya Lampung.

Pengumuman pemenang lomba Merdeka Fest dan pembagian hadiah menambah semarak. Penonton yang beruntung pun pulang dengan door prize, memperkuat kesan festival sebagai ruang kebahagiaan bersama.

Lampung sebagai Rumah Kreativitas Penyelenggaraan Gelar Karya ke-57 sekali lagi menegaskan bahwa Lampung memiliki potensi kreatif yang luar biasa. Tema “Rayakan Kemerdekaan dengan Karya dan Kebersamaan” terasa relevan: festival ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang lahirnya optimisme baru.

Menurut Adhitya, di balik kemeriahan, tersisa pekerjaan rumah. Festival besar seperti Merdeka Fest kerap berakhir seremonial jika tidak diikuti langkah strategis pemerintah daerah dalam memberi ruang berkelanjutan bagi seniman dan atlet muda. Tanpa wadah yang konsisten, karya dan bakat anak muda hanya muncul musiman setiap kali ada perayaan nasional.

“Wushu adalah seni sekaligus olahraga yang bisa menginspirasi. Kami berharap ke depan semakin banyak ruang bagi anak muda Lampung untuk tampil, bukan hanya di panggung seni, tetapi juga di arena olahraga. Lampung harus berani melahirkan atlet berprestasi sekaligus seniman yang mengharumkan daerah,” pungkasnya.

Masyarakat pun berharap, setelah suksesnya Merdeka Fest 2025, kegiatan serupa bisa dilanjutkan dengan skala lebih besar, lebih terstruktur, dan benar-benar menjadi motor ekosistem seni-budaya Lampung. Dengan demikian, festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari strategi pembangunan identitas daerah.

Related posts